Sudaryono Ungkap Masalah MBG yang Sebenarnya: Politis!

mediarealita.co
Sudaryono. Foto: Gerindra

JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kasus anak mengalami sakit usai menyantap menu program tersebut.

Namun, Suryadono menilai persoalan MBG bukan terletak pada programnya. Menurut dia, polemik yang muncul justru berkaitan dengan tarik-menarik kepentingan ideologis dan politik yang berkembang di tengah masyarakat.

Baca juga: KOSPI dan MBG Watch Somasi Prabowo

“Sebenarnya MBG tidak pernah bermasalah, itu hanya masalah ideologis politik,” kata Suryadono.

Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG kemudian berkembang menjadi isu besar karena mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Guru, orang tua siswa hingga wartawan ikut menyuarakan kasus anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.

Kondisi tersebut kemudian membuat persoalan yang terjadi di lapangan terdengar lebih luas. Pemberitaan media dan perbincangan di media sosial turut membuat kasus anak sakit semakin menjadi perhatian publik.

Baca juga: Rocky Gerung Soal MBG dan Koperasi: Tak Bisa Dihentikan karena Amanat Konstitusi

Kasus anak yang mengalami gangguan kesehatan akhirnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan kesehatan atau evaluasi penyediaan makanan, tetapi berkembang menjadi perdebatan mengenai program MBG itu sendiri.

Padahal, munculnya kasus anak sakit semestinya menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program. Mulai dari kualitas bahan makanan, proses pengolahan, distribusi, hingga standar keamanan pangan.

Terlebih, penerima manfaat MBG sebagian besar merupakan anak-anak yang membutuhkan jaminan makanan yang aman dan bergizi.

Baca juga: Ketua MPR Sebut MBG program Terobosan Menuju Indonesia Emas

Di sisi lain, keterlibatan orang tua dan guru dalam menyuarakan kondisi anak yang sakit merupakan bagian dari respons terhadap kejadian yang mereka alami.

Begitu pula dengan wartawan dan media yang memberitakan peristiwa tersebut sebagai informasi kepada publik.far

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru