2.500 Sapi di Dusun Brau Bisa Jadi Magnet Wisata, Wali Kota Desak Disparta Turun Tangan

BATU- Pemerintah Kota Batu diminta serius menggarap potensi lokal Dusun Brau, Desa Gunungsari, sebagai bagian dari pengembangan desa wisata. Potensi peternakan sapi perah dan produk olahan susu dinilai bisa menjadi daya tarik wisata baru.

Hal itu disampaikan Wali Kota Batu Nurochman saat menghadiri kegiatan “Festival Nyusu Bareng 2026 ” di Dusun Brau. Ia meminta Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu melihat potensi tersebut dan memberikan pendampingan agar pengelolaannya semakin baik.

“Dinas Pariwisata harus membaca ini sebagai salah satu potensi yang harus didampingi supaya tata kelolanya nanti semakin baik,” kata Nurochman. Minggu (4/10/2026) 

Menurutnya, Dusun Brau memiliki sekitar 2.500 ekor sapi dengan produksi susu mencapai sekitar 10.000 liter per hari. Potensi tersebut harus dipotret dan dikembangkan, termasuk melalui produk-produk olahan susu.

Nurochman berharap konsep “ Festival Nyusu Bareng ” dapat menjadi brand baru yang mampu menarik kunjungan wisatawan ke Kota Batu, khususnya Dusun Brau.

“Ini satu brand baru di Kota Batu. Semoga ini nanti menarik kunjungan wisatawan ke Kota Batu,” ujarnya.

Selain pariwisata, Nurochman juga meminta dukungan terhadap akses menuju Dusun Brau sehingga wisatawan lebih mudah dan nyaman berkunjung.

Sementara itu, Kepala Desa Gunungsari Andi Susilo berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara seremonial. Menurutnya, pengembangan potensi Brau harus dilanjutkan agar memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

Ketua Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu, Mochammad Dadi menambahkan, pengembangan desa wisata harus mengedepankan keberlanjutan dan inovasi masyarakat.

“Keberhasilan acara ini tidak hanya meriahnya acara, tetapi bagaimana usai dari acara ini ada keberlangsungan, peningkatan, atau inovasi-inovasi masyarakat yang semakin berkembang,” katanya.

Dengan kekuatan peternakan dan produksi susu yang besar, Dusun Brau dinilai memiliki modal untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis peternakan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat lokal. (Ton)

Editor : Redaksi