SURABAYA– Seorang pelajar di Surabaya mengaku menjadi korban dugaan pengeroyokan di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Surabaya Barat pada Sabtu dini hari, 15 Februari 2025. Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami sejumlah luka di beberapa bagian tubuh dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Kuasa hukum korban, Matthew Jerem, menjelaskan bahwa insiden bermula ketika korban datang ke tempat hiburan malam Super House sekitar pukul 22.00 WIB bersama beberapa rekannya. Mereka kemudian menuju sofa yang telah dipesan dan bergabung dengan teman-teman lainnya.
Sekitar pukul 02.00 WIB, korban berjalan menuju toilet. Dalam perjalanan, ia mengaku tidak sengaja menyenggol seorang pria berinisial RCW dan langsung meminta maaf.
Setelah keluar dari toilet, korban kembali menuju tempat duduknya. Namun, ia kembali terjatuh ke arah sofa yang ditempati RCW. Korban mengaku kembali menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut.
Tidak lama setelah kembali ke tempat duduknya, korban didatangi RCW bersama seorang pria berinisial RG. Menurut keterangan korban, RG diduga lebih dahulu memukul bagian ulu hatinya. Saat korban berusaha meredam situasi dengan mengatakan, "Ada apa, sabar," insiden justru semakin memanas.
Matthew Jerem mengatakan, dua petugas keamanan (security) tempat hiburan kemudian datang ke lokasi. Namun, menurut pengakuan korban, keduanya diduga justru memegangi tubuh korban sehingga tidak dapat bergerak.
"Dalam kondisi tersebut, korban mengaku dipukul berulang kali pada bagian wajah dan mata oleh RCW, kemudian disusul oleh RG serta seorang pria berinisial JJ," ujar Matthew, Selasa (21/7/2026).
Pihak kuasa hukum menilai tindakan tersebut merupakan dugaan aksi pengeroyokan.
Usai kejadian, korban dibawa oleh petugas keamanan ke sebuah ruangan di dalam lokasi hiburan. Sementara itu, menurut pengakuan korban, para terduga pelaku tidak ikut diamankan dan justru diperbolehkan meninggalkan lokasi.
Di dalam ruangan tersebut, korban mengaku telah menjelaskan kronologi kejadian kepada pihak keamanan sekaligus kembali menyampaikan permintaan maaf atas situasi yang terjadi. Setelah itu, korban diantar pulang oleh dua rekannya.
Sesampainya di rumah, kondisi korban justru memburuk. Ia mengeluhkan sesak napas, pusing, nyeri di sekujur tubuh, hingga kesulitan berjalan. Korban kemudian dilarikan ke National Hospital untuk menjalani pemeriksaan medis sebelum akhirnya diperbolehkan pulang dengan membawa obat.
Namun beberapa hari kemudian, kondisi korban disebut tidak kunjung membaik. Rasa sakit yang dialaminya semakin parah sehingga kembali menjalani pemeriksaan dan akhirnya harus dirawat inap di National Hospital.
Sementara itu, ibu korban, Fani Agustin, mengatakan hingga kini anaknya masih menjalani perawatan akibat luka-luka yang dialaminya serta mengalami trauma pascakejadian.
"Anak saya saat ini mengalami trauma berat dan masih mendapat perawatan karena mengalami luka di beberapa bagian, seperti mata, ulu hati, dan kepala," ujar Fani saat ditemui di Mapolda Jawa Timur.
Dalam perkara ini, pihak keluarga telah melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian. Mereka berharap proses hukum dapat berjalan secara objektif dan seluruh pihak yang diduga terlibat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku. ty
Editor : Redaksi