Jatim Dilanda Kekeringan Ekstrem, 60 Hari tanpa Hujan

Kekeringan ekstrem setelah tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Kekeringan ekstrem setelah tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.

SURABAYA  — Sejumlah wilayah di Jawa Timur menghadapi kekeringan ekstrem setelah tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi ini terungkap berdasarkan laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan sebagian besar wilayah Jawa Timur masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kriteria kekeringan ekstrem.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, mengungkapkan bahwa kekeringan ekstrem ditetapkan bagi wilayah yang telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa guyuran hujan.

Kondisi tersebut terpantau melalui tiga instrumen pembaruan peta BMKG, yakni Peta Monitoring HTH Berturut-turut, Peta Distribusi Curah Hujan Dasarian I Oktober 2026, serta Peta Prediksi Curah Hujan Dasarian II Oktober 2026.

“Wilayah Jawa Timur sebagian dari data yang ada masuk dalam kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut dengan kriteria ‘Kekeringan Ekstrem’, yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan,” ujar Taufiq Hermawan di Surabaya, Senin (12/10/2026).

Curah Hujan Diprediksi Tetap Rendah

BMKG mencatat distribusi curah hujan di Jawa Timur pada Dasarian I Oktober 2026 secara umum berada dalam kategori rendah. Kondisi tersebut diperkirakan tidak banyak berubah pada periode berikutnya.

Berdasarkan prediksi deterministik, curah hujan pada Dasarian II Oktober 2026 diperkirakan tetap rendah. BMKG juga menyebut peluang secara probabilistik terjadinya kondisi curah hujan rendah tersebut mencapai lebih dari 90 persen.

Data kekeringan Jawa Timur berdasarkan pembaruan 11 Oktober 2026 menunjukkan bahwa wilayah dengan Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari telah masuk kategori kekeringan ekstrem. Sementara itu, curah hujan pada Dasarian I Oktober tercatat dalam kategori rendah, dengan peluang curah hujan rendah pada Dasarian II mencapai lebih dari 90 persen.

Sebelumnya, pada September 2026, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun mencatatkan periode tanpa hujan terpanjang di Indonesia, yakni mencapai 139 hari berturut-turut.

Waspadai Krisis Air Bersih hingga Karhutla

Kekeringan berkepanjangan tersebut merupakan kelanjutan dari tren yang terjadi sejak pertengahan tahun. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak terhadap kehidupan masyarakat, pertanian, serta lingkungan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak lanjutan kekeringan, di antaranya:

- Kelangkaan atau krisis air bersih, terutama untuk memenuhi kebutuhan domestik masyarakat.

- Penurunan produktivitas lahan pertanian akibat kekurangan pasokan air untuk irigasi.

-Meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan vegetasi yang sudah sangat kering.

Masyarakat juga diharapkan menghemat penggunaan air dan menghindari aktivitas yang dapat memicu percikan api di area terbuka. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kebakaran lahan yang lebih luas.

Dengan kondisi Hari Tanpa Hujan yang telah melampaui 60 hari di sejumlah wilayah, kewaspadaan dan langkah antisipasi dari pemerintah daerah maupun masyarakat menjadi penting untuk mengurangi dampak kekeringan ekstrem di Jawa Timur.bay

Editor : Redaksi