JEMBER - Kekeringan di Kabupaten Jember semakin meluas. Hingga 30 Agustus 2026, sebanyak 1.052 kepala keluarga (KK) terdampak kekurangan air bersih yang tersebar di delapan kecamatan.
Kepala BPBD Jember Edi Budi Susilo mencatat, wilayah terdampak meliputi enam desa dan tiga kelurahan, dengan cakupan tujuh dusun, tiga lingkungan, 13 RW, dan 20 RT.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, distribusi air bersih terus dilakukan secara berkala dengan melibatkan BPBD, DPRKPLH, Perumdam Tirta Pandulungan, dan PMI. Hingga 30 Agustus, tercatat sudah 100 kali pengiriman air bersih dengan total volume mencapai 492.500 liter.
“Sampai dengan 30 Agustus 2026, penanganan bencana kekeringan tercatat sebanyak 1.052 KK terdampak yang tersebar di delapan kecamatan,” kata Edi, Minggu (30/08/2026).
Wilayah dengan distribusi air terbanyak berada di Kecamatan Pakusari, tepatnya Desa Sumberpinang, Dusun Bunder.
Sebanyak 125 KK terdampak dan hingga 29 Agustus telah menerima 30 kali pengiriman air dengan total volume 150.000 liter.
Di Kecamatan Kalisat, sebanyak 325 KK di Dusun Kidul dan Dusun Karangpring terdampak kekeringan. Hingga 28 Agustus, distribusi air telah dilakukan sebanyak 21 kali dengan total 105.000 liter.
“Distribusi air bersih dilakukan secara berkala menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah terdampak,” ujar Edi.
Sementara itu, di Kecamatan Silo, sebanyak 85 KK di Desa Mulyorejo, Dusun Baban Timur, terdampak. Distribusi air telah dilakukan 13 kali dengan total 65.000 liter.
Penanganan juga dilakukan di Kecamatan Bangsalsari. Sebanyak 75 KK di Desa Banjarsari, Dusun Dukuh II, telah menerima lima kali pengiriman dengan total 25.000 liter air bersih.
Di Kecamatan Sumbersari, terdapat dua titik terdampak. Kelurahan Antirogo dengan 90 KK telah menerima 12 kali pengiriman dengan total 52.500 liter. Sedangkan Kelurahan Tegal Gede dengan 40 KK terdampak telah menerima lima kali distribusi dengan total 25.000 liter.
“Kami terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang terdampak maupun wilayah yang memiliki potensi terdampak kekeringan,” jelas Edi.
Di Kecamatan Rambipuji, sebanyak 120 KK di Desa Kaliwining, Dusun Bedadung, terdampak kekeringan. Hingga 30 Agustus, air bersih telah dikirim sebanyak enam kali dengan total 30.000 liter.
Sedangkan di Kecamatan Patrang, sebanyak 90 KK di Kelurahan Baratan, Lingkungan Baratan Timur, terdampak. Wilayah tersebut telah mendapatkan dua kali pengiriman dengan total 10.000 liter.
Kondisi berbeda terjadi di Kecamatan Jelbuk. Sebanyak 102 KK di Dusun Sumber Tengah, Desa Panduman, sebelumnya terdampak kekurangan air bersih dan telah mendapatkan enam kali pengiriman dengan total 30.000 liter.
“Untuk Jelbuk, distribusi air bersih sudah dihentikan karena pipanisasi PAMSIMAS telah berfungsi dan sudah menjangkau warga terdampak,” kata Edi.
Empat tandon BPBD yang sebelumnya ditempatkan di lokasi tersebut kemudian ditarik pada 24 Agustus 2026. Penarikan dilakukan setelah hasil koordinasi bersama pemerintah desa dan Dinas PUPR menyatakan penanganan melalui pipanisasi telah selesai.
Sementara itu, Kecamatan Tempurejo dan Mayang masih dalam pemantauan. Di Desa Pondokrejo, Tempurejo, hasil asesmen menunjukkan ketersediaan air masih mencukupi dan belum ditemukan warga yang mengalami kekurangan air bersih.
Namun, terdapat potensi 124 KK terdampak.
Di Desa Mrawan, Kecamatan Mayang, kondisi serupa ditemukan. Ketersediaan air masih terpenuhi dan belum ada warga yang mengalami kekurangan air bersih, meski terdapat potensi 239 KK terdampak.
“Untuk wilayah yang berdasarkan hasil asesmen airnya masih tercukupi, tetap kami pantau karena memiliki potensi terdampak kekeringan,” pungkas Edi Budi Susilo.
Dalam penanganan kekeringan tersebut, tercatat 30 tandon BPBD telah dikerahkan, terdiri dari 29 tandon berkapasitas 1.200 liter dan satu tandon berkapasitas 2.200 liter. Selain itu terdapat dukungan tandon mandiri berkapasitas 1.000 liter dan 5.000 liter serta dua tandon PMI masing-masing berkapasitas 1.200 liter.
Distribusi air bersih juga didukung empat mobil tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter dari BPBD, DPRKPLH, Perumdam Tirta Pandulungan, dan PMI.
Penanganan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bersih warga di wilayah terdampak tetap terpenuhi selama kondisi kekeringan berlangsung.jb
Editor : Redaksi