Polemik Dua Perusahaan Plat Merah di Lamongan Tuai Sorotan

Aksi tersebut terlihat dalam video yang diunggah melalui akun TikTok @simapan_bdl.
Aksi tersebut terlihat dalam video yang diunggah melalui akun TikTok @simapan_bdl.

LAMONGAN - Dua perusahaan plat merah di Kabupaten Lamongan tengah menjadi sorotan publik. Bank Daerah Lamongan (BDL) dan Perumda Air Minum Lamongan menuai kritik setelah keduanya terlihat memamerkan kemewahan dalam sebuah unggahan di media sosial.

Aksi tersebut terlihat dalam video yang diunggah melalui akun TikTok @simapan_bdl. Dalam video itu, Direktur Utama BDL bersama jajaran direksi menyerahkan hadiah undian berupa satu unit mobil listrik BYD kepada Direktur PDAM Lamongan yang didampingi jajaran direksi.

Kedua pihak tampak sumringah saat memperlihatkan kendaraan tersebut sebagai bagian dari program Tabungan Simapan BDL.

Publikasi tersebut dinilai tidak etis dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat. Pasalnya, hal itu muncul ketika kedua BUMD tersebut tengah menjadi sorotan dan mendapat kritik publik dalam beberapa bulan terakhir.

Selama enam bulan terakhir, masyarakat Lamongan terus menyuarakan berbagai keluhan terhadap PDAM Lamongan. Perusahaan air minum tersebut mendapat kritik mulai dari kualitas air yang dinilai buruk, tarif yang dianggap mahal, hingga pelayanan yang dinilai belum optimal.

Selain itu, rencana penyertaan modal untuk PDAM juga menuai kecurigaan karena dinilai berpotensi sarat kepentingan tertentu.
Gelombang penolakan cukup besar juga muncul terkait rencana investasi senilai Rp2 triliun dari PT MOYA. Rencana tersebut dinilai sejumlah pihak berpotensi mempertaruhkan kedaulatan pengelolaan air di Kabupaten Lamongan.

Di sisi lain, Bank Daerah Lamongan (BDL) juga tidak luput dari sorotan terkait persoalan tata kelola dan dugaan fraud.
BDL disorot terkait rencana penyertaan modal yang dinilai sejumlah pihak sebagai langkah manajemen untuk menutupi tingginya angka Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah.

Masyarakat juga mengkritisi ribuan kasus kredit bermasalah di internal bank yang dinilai berpotensi mencederai prinsip tata kelola perbankan yang sehat.
Lebih jauh, muncul dugaan adanya fasilitas kredit bernilai miliaran rupiah kepada sejumlah figur strategis dan pimpinan partai politik dalam koalisi lokal. Dugaan tersebut bahkan disebut-sebut berkaitan dengan rekayasa perbankan yang menyentuh lingkaran kekuasaan eksekutif daerah.

Berbagai persoalan tersebut membuat sikap para petinggi BUMD dinilai sebagian warga sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap kondisi masyarakat. Warga merasa aspirasi dan berbagai kesulitan yang mereka hadapi belum mendapat perhatian yang semestinya.

"Di saat kami resah dengan ketersediaan air bersih di Lamongan, di saat kasus-kasus BDL makin terungkap dan belum ada titik terang, kok bisa mereka (Direksi BDL dan PDAM) malah ketawa-ketiwi memamerkan kemewahan di medsos?" ungkap Khoir, salah satu warga Sanur, dengan nada kesal.

Khoir menilai tindakan para direksi BUMD tersebut mencerminkan sikap yang tidak menunjukkan empati terhadap kondisi masyarakat.

"Bagi kami, itu sebuah arogansi kekuasaan. Mereka merasa memiliki posisi yang lebih tinggi dan tidak perlu memedulikan keluhan masyarakat kecil," tambahnya.

Ia juga mempertanyakan kejelasan serta mekanisme pemberian hadiah mobil tersebut dan mendesak kedua pihak memberikan transparansi kepada publik.

"Benarkah itu Pak Syahril yang mendapat mobil dari program Tabungan Simapan BDL? Uang pribadi atau uangnya PDAM?" kata Khoir.

"Mobil itu hadiah program undian, kan? Apakah ada rekayasa? Kalau tidak, memangnya ada kebetulan yang sesempurna ini?" pungkasnya.

Masyarakat kini mendesak BDL dan PDAM Lamongan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme, sumber pembiayaan, serta keabsahan hadiah mobil tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah publik.

Reporter: M.Yusuf Al Ghoni

Editor : Redaksi