Kades Junrejo Turun Menari Tayub, Tradisi Leluhur Tetap Hidup

Kades Junrejo, Andi Faizal Hasan menari tayub bersama masyarakat. Foto: Anton
Kades Junrejo, Andi Faizal Hasan menari tayub bersama masyarakat. Foto: Anton

BATU- Pemerintah Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menggelar ritual budaya andong-andong sebagai bagian dari rangkaian Selamatan Desa sekaligus memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Ritual tersebut ditandai dengan kunjungan masyarakat ke tiga punden leluhur, yakni Punden Jungwatu, Punden Jeding, dan Punden Rejoso. Di setiap lokasi, masyarakat menggelar doa bersama serta pertunjukan seni tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus upaya menjaga warisan budaya lokal.

Salah satu kesenian yang ditampilkan adalah tari tayub yang dibawakan empat penari cantik dari Sanggar Trisno Budoyo. Suasana semakin meriah ketika Kepala Desa Junrejo, Andi Faizal Hasan, bersama istrinya turut turun ke pelataran Punden Jeding untuk menari tayub bersama masyarakat.

Dengan mengenakan selendang dan diiringi musik tradisional tayuban, Andi Faizal tampak berbaur dengan warga. Punden Jeding sendiri dikenal masyarakat memiliki sumber air yang diyakini memiliki khasiat.

Andi Faizal Hasan mengatakan, ritual tersebut merupakan tradisi yang telah dilakukan masyarakat Junrejo secara turun-temurun setiap pelaksanaan Selamatan Desa. Kegiatan itu menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dianggap sebagai bedah krawang atau pendiri Desa Junrejo.

“Kami melakukan ritual bersama masyarakat dengan mendatangi punden-punden para leluhur dan berkirim doa agar desa kami dijauhkan dari segala macam bala. Salah satunya dengan menampilkan seni tayuban,” ujar Andi.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda. Ia mengapresiasi semakin banyaknya anak muda, termasuk anggota karang taruna, yang ikut terlibat dalam berbagai kegiatan adat dan budaya di Junrejo.

Sementara itu, Ketua Panitia Selamatan Desa Junrejo, Simon Purwo Ali, menjelaskan bahwa tradisi andong-andong telah menjadi bagian penting dari Selamatan Desa di tiga pedukuhan di Junrejo.

“Dari cerita leluhur, setiap Selamatan Desa memang harus ada andong-andong sebagai hiburan masyarakat. Dulu masyarakat bekerja keras, sehingga hiburan mereka tidak lepas dari seni tradisional, termasuk para penari dan alat musiknya. Sebagai warga desa, kita wajib menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur,” tegas Simon.

Ia menambahkan, rangkaian doa telah dilakukan di ketiga punden. Masyarakat dari masing-masing pedukuhan juga membawa tumpeng untuk kemudian didoakan bersama di Punden Jungwatu, Punden Jeding, dan Punden Rejoso.

Tradisi tersebut menjadi momentum bagi masyarakat Junrejo untuk mempererat kebersamaan sekaligus memastikan warisan budaya leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. (Ton)

Editor : Redaksi