BIREUEN — Gema takbir Idul Adha 1447 Hijriah akan segera berkumandang, namun 12 kepala keluarga di Gampong Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, masih harus menjalani kehidupan di tenda pengungsian. Mereka belum bisa kembali ke rumah sejak banjir menghancurkan permukiman mereka hampir enam bulan lalu.
Salbiah, salah satu penyintas, menjalani hari-harinya di bawah atap terpal yang mulai usang. Udara panas menyengat saat siang dan dingin menusuk ketika malam menjadi rutinitas yang harus ia terima bersama keluarganya.
Baca juga: Tinjau Banjir di Lamongan, Gubernur Khofifah Pastikan Penanganan Dilakukan Cepat
“Kalau malam hujan kami kedinginan, bila siang hari panas sekali, Anak anak juga sering sakit demam, batuk karena,” ujar Salbiah, Rabu (13/5), kepada wartawan, dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi semakin memprihatinkan karena rumah Salbiah sudah tidak lagi berbentuk. Lahan tempat tinggalnya kini telah menjadi bagian dari aliran Krueng Peusangan. Selain Salbiah, terdapat 11 kepala keluarga lain yang masih bertahan di lokasi pengungsian tersebut.
“Saya tidak mempunyai apa apa lagi, hingga lokasi rumah saya sudah menjadi sungai sekarang. Yang masih tinggal dilokasi menasah di bawah tenda ini salain saya ada 12 kepala keluarga lainnya,” jelas Salbiah.
Hingga kini, Salbiah dan para pengungsi lainnya belum menerima bantuan dari pemerintah. Dana Tunggu Hunian (DTH), Jaminan Hidup (Jadup), maupun dana stimulan sosial ekonomi dan bantuan isian perabotan belum sekalipun mereka terima.
Sementara itu, para pengungsi mengaku tidak mendapatkan penjelasan rinci dari Pemerintah Kabupaten Bireuen, pihak kecamatan, maupun gampong mengenai hak-hak mereka. Mereka juga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami tidak dijelaskan secara detil, mengenai Hunian Sementara, (Huntara), Hunian Tetap (Huntap). Begitu juga dengan dana perabotan, padahal kami disini sangat membutuhkan Huntara, bila disuruh memilih pasti Huntara yang kami pilih untuk kami tinggal,” ungkap sejumlah pengungsi lainnya di depan tenda itu.
Meski demikian, Salbiah dan para penyintas lainnya tetap berusaha bertahan. Mereka tidak memiliki pilihan lain selain menjalani hidup di tengah keterbatasan.
Menjelang Idul Adha, harapan untuk kembali ke rumah sendiri masih jauh dari kenyataan. Para pengungsi berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Pemerintah Aceh segera turun tangan mempercepat pemulihan.
Mereka ingin kembali hidup layak dan merayakan hari besar keagamaan bersama keluarga di rumah sendiri. Namun, tenda-tenda pengungsian masih berdiri menjadi saksi perjuangan warga korban banjir yang belum usai hingga saat ini. (mis)
Editor : Redaksi