Jalan Dapur Utara Rusak Parah, Warga Keluhkan Debu dan Risiko Kecelakaan

mediarealita.co
Ruas jalan yang menjadi akses menuju Jalan Lingkar Utara (JLU) Kaliotik yang rusak parah. Foto: Yusuf

LAMONGAN – Kondisi jalan poros desa sekaligus jalur penghubung antarkawasan di wilayah Dapur Utara, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, menjadi sorotan warga.

Ruas jalan yang menjadi akses menuju Jalan Lingkar Utara (JLU) Kaliotik tersebut mengalami kerusakan cukup parah dan dikeluhkan karena menimbulkan debu pekat serta meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengguna jalan.

Kerusakan jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat yang melintas, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas warga sehari-hari. Ruas tersebut merupakan salah satu akses yang digunakan masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas, termasuk mobilitas menuju kawasan perkotaan maupun akses menuju jalur utama di sekitar Jalan Lingkar Utara Kaliotik.

Berdasarkan pantauan di lapangan, titik kerusakan cukup mencolok berada di sisi selatan, tepat di depan UPT Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Lamongan, kemudian mengarah menuju Jalan Raya Kaliotik. Lokasi tersebut berada pada koordinat Latitude -7.1092 dan Longitude 112.4179.

Permukaan jalan terlihat mengalami kerusakan dengan sejumlah bagian yang tidak lagi memberikan kenyamanan bagi kendaraan yang melintas. Kondisi tersebut semakin terasa ketika kendaraan melintas dan memicu kepulan debu, terutama saat cuaca panas dan kondisi jalan dalam keadaan kering.

Bagi warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar ruas tersebut, persoalan debu menjadi keluhan tersendiri. Debu yang beterbangan tidak hanya mengotori lingkungan dan kendaraan, tetapi juga dikhawatirkan mengganggu kenyamanan serta kesehatan pernapasan masyarakat.

Selain persoalan debu, kondisi permukaan jalan yang rusak juga menjadi perhatian dari sisi keselamatan. Pengendara, khususnya pengguna sepeda motor, harus lebih berhati-hati ketika melewati bagian jalan yang berlubang atau permukaannya tidak rata. Situasi tersebut berpotensi membahayakan apabila kendaraan melaju dalam kondisi ramai atau ketika jarak pandang pengendara terganggu oleh debu.

Kondisi ini membuat warga berharap pemerintah daerah tidak sekadar melakukan penanganan sementara, tetapi segera merealisasikan perbaikan secara menyeluruh agar fungsi jalan sebagai akses penghubung masyarakat dapat kembali optimal.

Harapan tersebut mendapat kepastian dari Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Kabupaten Lamongan. Kepala Dinas BMCKTR Kabupaten Lamongan, Ir. Andhy Kurniawan, S.T., M.M.T., memastikan ruas jalan tersebut telah masuk dalam program Jalan Mantap dan Alus Lamongan (JAMULA) tahun 2026.

“Ruas itu Alhamdulillah sudah masuk penanganan JAMULA tahun ini (2026), sekarang dalam proses pengadaan,” ujar Andhy saat dikonfirmasi, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Andhy, masuknya ruas Dapur Utara–Sidokumpul dalam program JAMULA merupakan bagian dari perencanaan penanganan infrastruktur jalan yang telah disusun pemerintah daerah. Usulan penanganan ruas tersebut, kata dia, telah diajukan sejak 2025 dengan mempertimbangkan penyelesaian pembangunan infrastruktur utama di kawasan sekitarnya.

“Jalan itu sudah masuk usulan tahun 2025 setelah JLU (Jalan Lingkar Utara) selesai, dan dilaksanakan di tahun ini 2026,” jelasnya.
Penjelasan tersebut sekaligus menjawab keresahan warga yang mempertanyakan mengapa kerusakan jalan di kawasan tersebut belum mendapat penanganan permanen. Pemerintah daerah menyebut penanganan ruas tersebut berkaitan dengan tahapan perencanaan dan pengadaan sehingga pelaksanaan fisiknya mengikuti proses yang telah ditetapkan.

Meski perbaikan permanen masih menunggu proses pengadaan, BMCKTR tidak tinggal diam menghadapi kondisi jalan saat ini. Dinas tersebut telah mengambil langkah penanganan sementara untuk mengurangi dampak kerusakan, khususnya persoalan debu dan kondisi jalan yang dinilai mengganggu pengguna jalan.

“Kami perintahkan tim Quick Respon BMCKTR untuk segera mengambil langkah darurat secepatnya,” tegas Andhy.

Langkah cepat tersebut menjadi penting mengingat ruas jalan masih digunakan masyarakat setiap hari. Penanganan sementara diharapkan dapat mengurangi risiko bagi pengguna jalan sembari menunggu pekerjaan konstruksi melalui program JAMULA direalisasikan.

Dengan masuknya ruas tersebut dalam JAMULA 2026, perhatian kini tidak hanya tertuju pada kapan pekerjaan dimulai, tetapi juga pada kualitas pelaksanaan proyek di lapangan. Masyarakat tentu berharap perbaikan nantinya tidak sebatas menutup titik-titik kerusakan, melainkan mampu meningkatkan kemantapan jalan sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang.

Apalagi, posisi ruas Dapur Utara–Sidokumpul memiliki fungsi penting sebagai jalur penghubung menuju kawasan Jalan Lingkar Utara Kaliotik. Infrastruktur jalan yang mantap dibutuhkan untuk mendukung kelancaran mobilitas warga sekaligus menunjang aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat di wilayah tersebut.

Dari sisi pembiayaan, penanganan jalan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lamongan melalui perangkat daerah yang memiliki kewenangan terhadap jalan kabupaten.

Secara umum, penanganan infrastruktur jalan dibagi berdasarkan status dan kewenangan masing-masing. Jalan nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui APBN dan instansi terkait seperti Kementerian PUPR/BBPJN. Sementara jalan kabupaten dan ruas strategis yang menjadi kewenangan pemerintah daerah ditangani melalui APBD Kabupaten Lamongan.

Adapun jalan lingkungan dengan cakupan lebih kecil menjadi bagian dari penanganan perangkat daerah sesuai pembagian kewenangan, termasuk sektor perumahan, kawasan permukiman, dan pemerintahan desa.
Dengan adanya kepastian dari BMCKTR bahwa ruas Dapur Utara–Sidokumpul telah masuk JAMULA 2026, warga kini tinggal menunggu realisasi pekerjaan di lapangan. Di sisi lain, langkah Quick Respon diharapkan mampu menjadi solusi sementara agar debu dan risiko keselamatan di ruas tersebut tidak terus menjadi persoalan selama menunggu pekerjaan permanen.

Bagi masyarakat, perbaikan jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Kondisi jalan yang baik menyangkut keselamatan pengguna, kelancaran aktivitas harian, kenyamanan lingkungan, hingga akses masyarakat terhadap berbagai fasilitas publik.

Karena itu, realisasi JAMULA di ruas tersebut menjadi penting untuk memastikan keluhan warga yang selama ini muncul benar-benar mendapatkan penyelesaian konkret, bukan berhenti pada tahap perencanaan dan pengadaan.

Dengan fokus pada mengapa jalan rusak bertahun-tahun, dampak debu terhadap warga, riwayat usulan sejak 2025, serta menguji sejauh mana komitmen JAMULA 2026 benar-benar akan terealisasi.

Reporter: M.Yusuf AL Ghoni

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru