SIDOARJO - Kondisi Pasar Induk Puspa Agro di Desa Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, kembali menjadi sorotan. Pasar yang sejak awal digadang-gadang menjadi pusat perdagangan agrobisnis terbesar di Jawa Timur itu kini terlihat sepi pembeli dan dipenuhi lapak yang tidak lagi beroperasi.
Pantauan di lapangan menunjukkan banyak kios tertutup, area perdagangan lengang, dan sebagian bangunan tampak tidak terawat. Aktivitas jual beli tidak seramai beberapa tahun lalu. Sejumlah pedagang mengaku omzet menurun drastis sehingga sebagian memilih menutup usaha.
“Dulu ramai, sekarang banyak lapak kosong. Pembeli juga makin sedikit,” ujar salah satu pedagang yang masih bertahan di kawasan pasar.
Beberapa sudut pasar juga terlihat mengalami kerusakan mulai dari plafon, cat bangunan, hingga fasilitas umum yang kurang terawat. Kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa sebagian area pasar seperti terbengkalai.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi C DPRD Jatim, Adam Rusydi, menyebut pihaknya melihat adanya upaya perbaikan kinerja dari manajemen Puspa Agro dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Adam, salah satu perhatian utama DPRD Jatim adalah bagaimana Puspa Agro sudah memperbaiki kinerja setelah sebelumnya menghadapi berbagai persoalan keuangan.
“Kondisi saat ini adalah bagaimana Puspa Agro melakukan perbaikan kinerja. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Puspa Agro sudah mulai memberikan laba kepada PT JGU, dan mulai menyicil hutang-hutang yang dilakukan oleh direksi lama,” ujarnya, Selasa (09/06/2026).
Ia menilai bahwa manajemen saat ini yang dipimpin oleh Muhammadiah Agus Muslim, mulai menunjukkan peningkatan kinerja.
“Secara kinerja ada peningkatan. Hari ini kami mendukung Puspa Agro sebagai BUMD pangan yang nantinya menjadi katalisator pangan di Jawa Timur,” kata Adam.
DPRD Jatim juga mendorong agar Puspa Agro lebih terintegrasi dengan kebutuhan pangan daerah, termasuk menjalin kerja sama pasokan dengan sejumlah rumah sakit di Jawa Timur.
Adam mengakui salah satu kendala utama Puspa Agro selama ini adalah persoalan akses dan konektivitas kawasan pasar.
“Selama ini kendala Puspa Agro adalah pada akses. Pemerintah sudah membangun infrastruktur untuk mempermudah akses menuju kawasan Puspa Agro,” jelasnya.
Ia berharap perbaikan infrastruktur tersebut dapat membantu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan dan mengisi lapak-lapak kosong.
Setelah Panitia Khusus (Pansus) BUMD DPRD Jatim menyelesaikan pekerjaannya, Komisi C disebut akan menindaklanjuti rekomendasi yang dihasilkan dan melakukan pengawasan rutin terhadap kinerja BUMD.
“Kami akan meminta laporan kinerja secara berkala, setiap triwulan, tentang bagaimana kinerja BUMD dan target yang mereka capai,” tegas Adam.
Ia juga menyampaikan bahwa Komisi C sedang menggodok pengembangan peran Puspa Agro, termasuk kemungkinan pengembangan bisnis peternakan sebagai bagian dari penguatan BUMD pangan Jawa Timur.
“Kami akan terus melakukan fungsi controlling agar Puspa Agro dengan investasi sebesar itu benar-benar bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Meski ada klaim pembenahan dari sisi manajemen dan dukungan kebijakan, tantangan di lapangan masih besar. Sepinya pembeli, banyaknya lapak mangkrak, dan kondisi fisik pasar yang belum sepenuhnya pulih menunjukkan bahwa Puspa Agro masih membutuhkan langkah konkret agar kembali hidup sebagai pusat perdagangan pangan regional. Tyan
Editor : Redaksi