SAHABAT, pernah gak terpikir, kenapa anak-anak muda di China sana, umur belasan tahun udah jago bikin robot, paham algoritma, dan siap tempur di dunia manufaktur?
Sementara di kita, anak mudanya masih sibuk FYP joget-joget atau war takjil?
Ini bukan kebetulan. Ini namanya social engineering tingkat tinggi!
Algoritma yang Mengedukasi, Bukan Menidurkan
Buka mata kita lebar-lebar. Aplikasi TikTok yang kita pakai hari ini, di China sana namanya Douyin. Pemiliknya sama, ByteDance. Tapi isi "jeroannya" beda total!
Di China, pemerintahnya gak mau rakyatnya bodoh. Mereka sadar, teknologi itu pisau bermata dua. Kalau dilepas liar, mental generasi mudanya bisa rusak, mager, dan cuma jadi konsumen.
Maka, algoritma Douyin diatur ketat oleh Beijing:
Anak di bawah usia 14 tahun cuma bisa akses 40 menit sehari.
Isi kontennya? Gak ada yang pamer kemewahan kosong atau drama gak mutu.
Isinya adalah konten How-To: cara mengikat tali sepatu dengan cepat, eksperimen sains rumit yang dikemas sederhana, sejarah dunia, sampai matematika taktis.
Mereka memanfaatkan teknologi untuk mengedukasi bangsa. Mereka mencetak applicative generation, generasi yang siap kerja dan siap menciptakan.
Kita di Sini? Cuma Jadi Target Pasar!
Sementara di belahan dunia lain, termasuk di negara kita tercinta, algoritma media sosial dilepas tanpa kendali atas nama "kebebasan".
Hasilnya? Anak-anak kita cuma membaca clickbait, cuma nonton judul depannya doang, tanpa kedalaman ilmu. Kita dibuat excited oleh hal-hal yang tidak produktif. Kita sedang dinidurkan, Sahabat!
Secara geopolitik, ini adalah perang asimetris. Ketika satu bangsa mendidik rakyatnya dengan teknologi, dan bangsa lain dibiarkan terlena dengan hiburan kosong, tebak siapa yang akan memimpin dunia 20 tahun lagi?
Turunkan Ego, Saatnya Kita Berubah
Gen Z dan generasi Alfa itu bukan malas. Mereka itu generasi paling adaptif terhadap informasi. Informasi di kepala mereka itu banyak, tapi sayangnya... tipis-tipis, gak dalam.
Salah siapa? Ya salah kita yang senior, salah kita yang mengisi media sosial tidak dengan ilmu yang matang. Kita terlalu sibuk jualan drama, bukan jualan cara (how-to).
kita ubah polanya. Kalau pemerintah belum bisa membatasi, kita sebagai kreator, sebagai orang tua, yang harus ambil kendali. Isi ruang digital dengan narasi yang mencerdaskan. Manfaatkan teknologi untuk membangun trust, membangun kapabilitas, bukan cuma sekadar cari viewer dan likes.
Dunia sedang berubah, krisis geopolitik di depan mata. Kalau Anda masih betah rebahan sambil nonton konten kosong... siap-siap aja jadi penonton di negeri sendiri.
Mardigu Wowiek Prasantyo -
Editor : Redaksi