Nadiem Masuk Perangkap

Nadiem saat dihibur orang tua dan istrinya usai dituntut 18 tahun. Foto: Dok Ang
Nadiem saat dihibur orang tua dan istrinya usai dituntut 18 tahun. Foto: Dok Ang

KASUS korupsi Nadiem Makarim berangkat dari ide digitalisasi pendidikan. Ini adalah proyek besar nasional yang hendak mentransformasikan dunia pendidikan menjadi modern dan selangkah lebih maju dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya.

"Karena itu, biaya proyek ini sangat besar hampir Rp10 triliun atau dua kali dari proyek e-KTP, yang juga berantakan dan hasilnya nihil karena dikorupsi petinggi partai," kata Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini,  Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, proyek digitalisasi hampir tidak menghasilkan transformasi apa pun. Dana pajak yang besar menguap tanpa hasil yang nyata.

Dia katakan, proyek era Nadiem Makarim menjabat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini secara administratif dan kebijakan sudah salah kaprah sejak awal karena menganggap bahwa transformasi sistem pendidikan modern bisa disulap dengan cara tekno-solusi (tech-solutionism).

"Dengan memasukkan sepotong gadget dan internet ke sekolah, maka transformasi dapat dilakukan secara cepat dan evolusioner, seperti e-commerce, e-marketing, digital bisnis dan jenis teknologi informasi lainnya," kata Didik.

Didik menyebut Joko Widodo atau Jokowi sebagai Presiden saat itu begitu yakin merekrut orang hebat seperti Nadiem Makarim maka gagasan besar digitalisasi pendidikan terjadi.

Jokowi memang sejak awal silau dengan AI, teknologi informasi, survei, dan lain-lain. Karena itu, Jokowi yang "endorse" proyek tersebut dan menyampaikannya secara terbuka.

"Dengan proyek yang salah kaprah sejak awal, pengelolaan yang amburadul serta hasil yang mengecewakan, maka hukum masuk ke dalamnya sampai terjadi kontroversi berbulan-bulan," katanya.

Tranformasi pendidikan melalui digitalisasi gadget sudah salah sejak awal sehingga pelaksanaan proyek itu menghasilkan output tanpa transformasi apa pun.

Sejatinya, lanjut Didik, transformasi pendidikan harus melibatkan proses yang melibatkan seluruh substansi dan variabel penting, seperti kualitas guru, literasi dasar, budaya belajar dan sekolah, infrastruktur listrik maupun internet, dan lainnya.

"Di sini Nadiem tidak bisa melakukannya karena modal sosial politik dan pengalamannya di bidang pendidikan tidak memadai. Gadget dan laptop memang merupakan instrumen modern tetapi tidak bisa sebagai penyorong transformasi menuju modern dan tidak otomatis meningkatkan kualitas belajar," jelasnya.

Masalah lainnya, dalam penetapan menteri, Presiden Jokowi silau terhadap orang yang hebat seperti Nadiem dan langsung memberi jabatan menteri. Reputasi Nadiem di pembangunan perusahaan start-up sebenarnya, jika diteliti, justru merupakan kelemahannya di birokrasi. Kelemahan itu sampai menggiringnya ke meja pengadilan seperti sekarang.

"Dalam kasus sekarang saya yakin Nadiem tidak mengambil uang proyek tersebut karena sudah kaya. Tetapi hukum tidak bisa bisa dicegah untuk masuk karena mempertanyakan apa hasil dari proyek dengan anggaran segede gajah tetapi dilaksanakan dengan tata kelola yang lemah dan sembarangan," jelas Didik.

Di start-up, Nadiem sangat lincah menakhodai Gojek sampai besar seperti sekarang. Tidak ada yang membantahnya dan prestasi ini yang membuat Jokowi silau terhadap Nadiem kemudian memberinya tugas mentransformasikan sistem pendidikan menjadi modern melalui digitalisasi.

Di dalam perusahaan Gojek, Nadiem gampang bergerak cepat, keputusan langsung top-down, kekuasaan mutlak pada pendirinya. Tetapi di sektor publik, pelaksanaan anggaran publik diatur dengan birokrasi dan prosedur yang ketat. Dengan mengambil ratusan tim dari luar dan tidak bersentuhan dengan birokasi, maka prosedur proyek yang menggunakan anggaran rakyat menjadi berantakan seperti terjadi pada kasus tersebut.

"Jadi, kasus ini bukan masalah Nadiem tidak korupsi dan tidak satu sen pun mengambil dana tersebut. Tetapi masalah tata kelola dan anggaran publik yang besar tersebut harus menjadi bagian dari pertanggungjawabannya," jelas Didik.

Masalah ini terjadi karena Nadiem tidak mempunyai modal sosial politik yang memadai masuk ke dalam birokrasi kelas atas. Meskipun memiliki akses langsung terhadap presiden dan presiden sendiri secara langsung mendukung proyek tersebut tetapi pertanggungjawaban publik terhadap anggaran publik dan hukum tetap harus dijalankan.

Dalam hal ini akan adil jika Jokowi diminta datang ke pengadilan karena sudah disebut-sebut di dalam sidang. Tetapi karena ada dimensi politik dari kasus ini, maka hukum dan pengadilan tidak juga mampu menghadirkan Jokowi.

"Kita sayang kepada Nadiem, pujian dan penghargaan luar biasa terhadapnya justru menjadi jebakan ketika masuk ke wilayah politik yang penuh onak dan duri. Keputusan Jokowi memasukkannya ke dalam politik seperti memasukan ke dalam perangkap," kata Didik.

Ia berharap di masa mendatang tidak ada lagi anak muda yang berprestasi di dunianya masuk ke dalam kubangan politik abu-abu, yang penuh ranjau dan jebakan.

"Mark Zuckenberg, Elon Musk, Jensen Huang dan orang hebat lainnya tidak perlu masuk politik dan tetap besar namanya di dunianya sendiri," tutup Didik Rachbini.aku

 

Editor : Redaksi