Survei IPO: Popularitas PSI dan Giberane Menuru Meski Jokowi Turun Gunung

JAKARTA- Hasil survei terbaru dari Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli hingga 3 August 2026 memunculkan fakta yang cukup menyita perhatian publik, sekaligus menjadi pil pahit bagi para pendukung setia, relawan, maupun simpatisan Joko Widodo (Jokowi).

Alih-alih meroket berkat kerja keras sang mantan presiden, elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan popularitas Gibran Rakabuming Raka justru menunjukkan tren penurunan.

Fenomena ini kembali memanaskan perdebatan klasik di panggung politik nasional: apakah popularitas dan kemenangan politik selama ini murni karena figur Jokowi, ataukah merupakan buah dari kerja mesin 

partai, khususnya PDI Perjuangan (PDIP)?

 

📝 Efektivitas Endorse Jokowi Dipertanyakan

 

Direktur Eksekutif IPO, Dr. Dedi Kurniasyah, dalam analisisnya mengungkapkan bahwa pengaruh politik Jokowi sebagai endorser tidak sebesar yang dibayangkan sebagian pihak. Berdasarkan catatan data survei, kekuatan pengaruh tokoh politik dalam mengarahkan pilihan publik masih diduduki oleh Megawati Soekarnoputri di peringkat pertama, disusul oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di posisi kedua, baru kemudian Joko Widodo di urutan berikutnya.

 

Hal ini, menurut para pengamat, menepis klaim sebagian pendukung bahwa Jokowi adalah figur sentral penentu kemenangan tunggal di berbagai kontestasi politik masa lalu, mulai dari tingkat kepala daerah hingga pemilihan presiden.

 

📝 Data Survei: Suara PSI Justru Merosot

 

Upaya habis-habisan yang dikerahkan oleh Jokowi untuk mendongkrak suara PSI tampaknya belum membuahkan hasil manis di lapangan.

 

 â—Ź Pemilu 2024: PSI tercatat mengantongi suara sekitar 2,8% secara nasional, belum berhasil melampaui ambang batas parlemen 4%.

 â—Ź Survei Terbaru (IPO): Elektabilitas PSI justru mengalami koreksi turun ke angka 1,9%.

 

Alih-alih melompat naik melewati angka minimal 4% untuk lolos ke Senayan, kerja keras dan safari politik yang dilakukan mantan presiden ke berbagai daerah seperti Lampung hingga Kupang belum mampu mengangkat naik.

Editor : Redaksi