Jejak Pendudukan Jepang Masih Tersimpan di Desa Tlekung, Gua dan Cerobong Asap Jadi Saksi Sejarah

mediarealita.co
Cerobong Asap bekas pabrik kulit jaman Jepang. Foto: Anton

BATU- Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, masih menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah dari masa pendudukan Jepang yang hingga kini tetap terjaga. Beberapa di antaranya adalah Gua Jepang, cerobong asap bekas pabrik kulit, serta sumber air pertirtaan Kaibun yang menjadi saksi perjalanan sejarah di kawasan tersebut.

Kepala Desa Tlekung, Mardi, mengatakan cerobong asap bekas pabrik kulit sengaja dipertahankan sebagai penanda sejarah. Meski bangunan pabriknya telah hilang dan berubah menjadi area persawahan, keberadaan cerobong tersebut menjadi bukti pernah berdirinya pabrik kulit pada masa pendudukan Jepang.

 

"Cerobong asap itu sengaja dipertahankan agar masyarakat mengetahui bahwa di lokasi tersebut dahulu pernah berdiri pabrik kulit pada masa penjajahan Jepang," ujar Mardi, Rabu (22/7/2026).

 

Selain cerobong asap, Desa Tlekung juga memiliki kompleks Gua Jepang yang diperkirakan berjumlah sedikitnya empat lubang. Menurut Mardi, jumlah tersebut kemungkinan lebih banyak karena sebagian pintu masuk gua telah tertutup.

 

"Jika dilakukan pembukaan kembali, kemungkinan masih banyak lorong gua yang ditemukan. Setiap sekitar 50 meter terdapat akses menuju lorong lain dan di dalamnya terdapat sumber mata air," jelasnya.

Mardi menambahkan, Gua Jepang sempat dibuka sebagai destinasi wisata pada masa Camat Samuji. Saat itu juga muncul gagasan untuk mengembangkan kawasan tersebut dengan pembangunan kolam renang dan penataan objek wisata gua.

Sementara itu, sumber air pertirtaan Kaibun kini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kawasan tersebut telah diresmikan sebagai destinasi wisata pada 2019 dan menjadi salah satu aset sejarah sekaligus wisata yang dimiliki Desa Tlekung.

Pemerintah Desa Tlekung berharap berbagai peninggalan sejarah tersebut dapat terus dilestarikan sekaligus dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi yang mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat maupun wisatawan. (Ton)

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru