BOJONEGORO- Kelangsungan bisnis Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digagas Presiden Prabowo Subianto diprediksi tidak akan bertahan lebih dari satu tahun, menurut pengamat ekonomi dan UMKM, Ridwan Mahmudi.
Secara matematika bisnis, menurutnya, KDMP menyimpan sejumlah persoalan, mulai dari tidak adanya studi kelayakan dalam menentukan lokasi, perekrutan pegawai yang tidak proper, hingga penyeragaman model usaha di seluruh wilayah.
Sebelumnya, Kepala Desa Campurejo, Edi Susanto, menyentil soal ketidakjelasan sistem tata kelola dan model bisnis KDMP.
Berdasarkan taksirannya, omzet harian satu KDMP hanya Rp100.000–Rp300.000 sehingga mustahil menutup ongkos operasional gerai termasuk menggaji karyawan.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mengatakan model bisnis KDMP akan disempurnakan seiring telah berjalannya 1.061 koperasi sejak Mei lalu.
Sehingga harapannya pada Agustus nanti, puluhan ribu koperasi yang tengah dikebut bisa langsung beroperasi seperti yang diinginkan Presiden.
Gerai koperasi merah putih di Bojonegoro tutup?
Puluhan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sempat tutup pada Jumat pekan lalu, sebagai bentuk protes para pekerja atas ketidak jelasan upah, kontrak, dan sistem pengelolaan koperasi.
Tapi, aksi tersebut tak berlangsung lama.
Gerai koperasi itu kembali beroperasi keesokannya hari, setelah ada tanggapan dari PT Agrinas Pangan Nusantara yang memuat sejumlah poin terkait hak-hak pekerja koperasi.bng
Editor : Redaksi