BATU (Realita)- Pemerintah Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggelar tradisi peringatan Tahun Baru Jawa 1960 atau Suro Agung sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan berbagai prosesi adat yang melibatkan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan kirab tumpeng dan ritual doa di seluruh punden yang berada di wilayah Desa Bulukerto. Pada malam harinya, masyarakat disuguhi pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon "Turune Wahyu Mahkuta Romo" yang dibawakan Ki Dalang Nur Hanief. Pertunjukan tersebut digelar di Punden Mbah Jagal Abilowo, Dusun Bluedendeng, Kamis (2/7/2026) malam.
Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, mengatakan rangkaian Suro Agung akan ditutup dengan pertunjukan kesenian tradisional khas Desa Bulukerto, yakni Jaran Door, yang juga dipusatkan di Punden Mbah Jagal Abilowo atau Punden Kasepuhan.
"Besok rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pertunjukan Jaran Door sebagai kesenian tradisional khas Desa Bulukerto yang digelar di lokasi yang sama," ujarnya.
Suhermawan menjelaskan, Desa Bulukerto memiliki sekitar delapan punden yang hingga kini masih dijaga keberadaannya. Salah satu yang tertua adalah Punden Mbah Jagal Abilowo, yang memiliki nilai sejarah penting bagi desa tersebut. Menurutnya, nama Bulukerto berasal dari penggabungan beberapa dusun yang kemudian disepakati menjadi satu nama, yakni Bulukerto.
Ia menegaskan, peringatan Suro Agung bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari upaya konservasi budaya agar nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin menjaga dan menguri-uri budaya leluhur. Kebudayaan menjadi ruang yang efektif untuk mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat," pungkasnya. (Ton)
Editor : Redaksi