SAMPANG— Antrian panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite kembali menjadi sorotan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Salah satunya H. Yusuf, warga yang tengah mengantri Pertalite. Ia mengaku kondisi tersebut cukup menyulitkan, terutama bagi masyarakat kecil yang sehari-hari mengandalkan sepeda motor untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
“ Utamanya masyarakat kecil seperti kami. Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, masyarakat mau dibawa ke mana? Pertalite ada, tetapi harus rela antre. Pertamax selalu habis. Masa sepeda motor mau dikasih solar, kan tidak mungkin,” ujar H. Yusuf.
Menurutnya, ketersediaan BBM sangat berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika masyarakat harus mengantre berjam-jam, waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja justru tersita di stasiun pengisian BBM.
H. Yusuf berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Ia juga meminta pemerintah pusat, termasuk Menteri ESDM dan Presiden, memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat tetap terjaga.
“ Kami berharap persoalan ini segera teratasi agar masyarakat kecil bisa bekerja secara normal. Karena bagi kami, kunci roda perekonomian juga ada di bahan bakar,” tegasnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, memberikan penjelasan terkait adanya antrean tersebut. Menurutnya, keberadaan antrean tidak serta-merta menunjukkan bahwa BBM mengalami kelangkaan.
“ Antre berarti barangnya ada, ya Mas. Berarti nggak langka, ya?,” ujar Ahad menanggapi kondisi antrean yang terjadi.
Ia menjelaskan, apabila permintaan masyarakat meningkat, stok BBM yang tersedia tentunya akan lebih cepat terserap. Karena itu, antrean panjang menurutnya perlu dilihat dalam konteks meningkatnya permintaan, bukan semata-mata sebagai tanda kelangkaan.
“ Barangnya ada. Kalau permintaan meningkat, pasti akan lebih cepat habis. Bukan berarti langka kalau ada antrean,” jelasnya.
Ahad juga menegaskan bahwa pengecer BBM bukan merupakan lembaga penyalur resmi. Ia meminta ketentuan terkait penyaluran BBM tersebut dapat diperiksa sesuai aturan yang berlaku.
“ Pengecer memang bukan lembaga penyalur resmi. Silakan dicek aturannya,” katanya.
Pertamina Patra Niaga, lanjut Ahad, juga tengah melakukan pengecekan langsung melalui tim di lapangan untuk memastikan kondisi distribusi dan ketersediaan BBM di wilayah tersebut.
“ Ini sedang dicek tim ke lapangan,” pungkasnya, saat dikonfirmasi melaului pesan singkat WhatsApp, Selasa (1/9/2026).gan
Editor : Redaksi