SOLO- Perbedaan pendapat sebenarnya bukan masalah. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana perbedaan itu disampaikan.
Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti kebiasaan debat di ruang publik yang menurutnya kadang justru berubah menjadi ajang saling mencaci. Ia mengaku kerap “ngelus dada” melihat cara orang beradu pendapat di hadapan publik.
Hal itu disampaikan Jokowi saat menghadiri Maulidurrasul Muhammad SAW dan Haul ke-8 Almaghfurlahu K.H. Musyaffa' Ali di Ponpes Al Falah Sumberadi, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).
Jokowi juga mengingatkan bahwa orang yang memang memiliki kemampuan tidak harus terus menunjukkan dirinya paling pintar. Menurutnya, ketika berbicara di hadapan banyak orang, yang lebih penting adalah memberikan contoh melalui perkataan yang baik.
“Debat kok caci maki kayak gitu,” ujar Jokowi. Ia kemudian mempertanyakan keberadaan sopan santun dan tata krama dalam cara masyarakat berkomunikasi di ruang publik.
Menariknya, Jokowi tidak mempersoalkan perbedaan pilihan politik. Ia justru menyebut pro dan kontra sebagai sesuatu yang wajar. Ada yang setuju, ada yang tidak; ada yang suka, ada pula yang berbeda pandangan.
Menurut saya, pesan ini cukup relevan dengan kondisi diskusi publik hari ini.
Berbeda pendapat itu sehat, bahkan penting. Tetapi kualitas sebuah perdebatan seharusnya tidak diukur dari siapa yang paling keras berbicara, melainkan dari seberapa kuat alasan yang disampaikan.
Kritik tetap boleh. Perbedaan sikap juga wajar. Namun, menyampaikan pendapat dengan tetap menghargai orang lain membuat ruang diskusi jauh lebih sehat.
Jokowi pun menyampaikan pesan sederhana: kalau bisa mengatakan sesuatu yang baik, mengapa harus memilih perkataan yang buruk?jam
Editor : Redaksi