PONOROGO- Rencana penyelenggaraan konser Josjis Fest 2026 di Stadion Batoro Katong, Kabupaten Ponorogo, mendapat penolakan dari sejumlah anggota DPRD Ponorogo.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Ponorogo, Ribut Rianto, mengatakan mayoritas anggota dewan mengaku keberatan jika stadion digunakan sebagai lokasi konser. Kekhawatiran utama berkaitan dengan potensi kerusakan rumput lapangan dan persoalan keamanan selama acara berlangsung.
“Mayoritas teman-teman itu menolak untuk dilaksanakan konser di situ,” ujarnya, Senin (24/08/2026).
Menurut Ribut, kondisi rumput menjadi salah satu pertimbangan utama. Rumput Stadion Batoro Katong sebelumnya telah mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan menjalani perawatan agar dapat digunakan sebagai fasilitas olahraga.
Kekhawatiran dewan, kata dia, bukan hanya kerusakan yang terjadi saat konser berlangsung, tetapi juga potensi adanya benda-benda berbahaya seperti batu atau pecahan kaca yang tertinggal di lapangan setelah acara.
“Jangan sampai merawat rumput yang sudah lama, terus dipakai dalam jangka semalam, rumputnya pada mati. Nah, itu kan merugikan kita semua,” ujarnya.
Ribut mengatakan pihak penyelenggara atau event organizer (EO) telah menyatakan kesanggupannya untuk bertanggung jawab apabila penggunaan stadion menimbulkan kerusakan.
Karena itu, DPRD menyerahkan keputusan akhir kepada pemerintah daerah melalui dinas terkait dan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita.
“Kalau memang siap, karena kami tugasnya cuma pengawasan, semua keputusan ada di dinas (Disbudparpora) dan Plt Bupati, monggo. Saya kembalikan ke situ. Sekarang panjenengan tanggung jawabnya kalau ada apa-apa,” kata Ribut.
Ia mengaku, kesepakatan ini diambil setelag Komisi D DPRD menggelar audensi dengan sejumlah pihak, termasuk suporter, Askab PSSI, Disbudparpora yang digelar hari ini. Kendati demikian ia mengungkapkan dari pembahasan tersebut, ia menyebut mayoritas pihak di internal dewan cenderung menolak penggunaan stadion untuk konser.
Namun, Ribut mengakui persiapan konser telah berjalan. Tiket telah dijual dan jadwal pelaksanaan semakin dekat sehingga keputusan akhir mengenai penggunaan stadion diserahkan kepada pihak eksekutif.
Selain kondisi rumput, aspek keamanan menjadi perhatian DPRD. Ribut menyinggung potensi persoalan apabila terjadi kericuhan atau keadaan darurat saat konser. Menurut dia, akses keluar-masuk stadion juga harus menjadi perhatian karena berkaitan dengan keselamatan penonton.
“Kalau konser di stadion itu ya kita berharapnya tidak ada apa-apa. Tapi kalau ada apa-apa, dengan pintu stadion cuma satu itu, bahaya,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan tanggung jawab tidak boleh berhenti pada komitmen penyelenggara sebelum acara. Jika setelah konser ditemukan kerusakan fasilitas, DPRD akan meminta penjelasan dan pertanggungjawaban kepada dinas yang memberikan izin penggunaan fasilitas tersebut.
“Intinya dinas, kita manggilnya kan dinas,” kata Ribut.
DPRD juga mempertanyakan keseimbangan antara penerimaan daerah dari pemanfaatan stadion dengan biaya perawatan fasilitas tersebut. Pasalnya, untuk sewa stadion selama dua hari PAD Ponorogo hanya mendapat Rp 15 juta.
Terlebih dari hasil audensi angka PAD dari pelaksanaan konser belum sepenuhnya dipastikan.
Menurut dia, persoalan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh. Pemerintah daerah tidak hanya harus menghitung pemasukan dari sewa stadion, tetapi juga potensi biaya yang muncul apabila fasilitas mengalami kerusakan.
“PAD sama yang kita lakukan selama ini untuk perawatan stadion itu jomplang sebenarnya,” ujarnya.
Diketahui sebelumnya, pemerintah daerah sebelumnya memang membuka peluang pemanfaatan Stadion Batoro Katong untuk kegiatan nonolahraga, termasuk konser, dengan syarat fasilitas tidak rusak dan kegiatan tersebut memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Disbudparpora Ponorogo menyebut kebijakan tersebut dikaji antara lain karena belum adanya lokasi konser berskala besar yang representatif di Ponorogo.
Bahkan Pemerintah Kabupaten Ponorogo sebelumnya menutup sementara Stadion Batoro Katong untuk perawatan rumput lapangan sepak bola.
Perawatan tersebut meliputi pemotongan, penyiraman, pemupukan, hingga penanaman ulang. Pemkab menyebut perawatan diperlukan untuk menjaga kondisi rumput agar memenuhi standar kelayakan pertandingan sepak bola.
Disbudparpora juga pernah menjelaskan bahwa rumput Stadion Batoro Katong merupakan jenis Zoysia japonica dengan nilai pengadaan sekitar Rp678 juta. Penggunaan stadion untuk konser sebelumnya dibatasi demi menjaga kualitas rumput tersebut.
Pemerintah Kabupaten Ponorogo pada 2025 juga menyatakan telah melakukan sejumlah pekerjaan di Stadion Batoro Katong, termasuk pengecatan tribun, pengurukan lintasan atletik, dan perbaikan drainase lapangan sepak bola.
Sementara itu, Josjis Fest 2026 dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026, di Stadion Batoro Katong Ponorogo. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WIB.
Informasi penjualan tiket mencantumkan harga mulai sekitar Rp129.000. Sejumlah musisi yang dijadwalkan tampil antara lain Denny Caknan, Vierratale, Aftershine, Della Monica, Kajawi, dan DJ Venth. Penyelenggara acara tercantum sebagai J Jitu Fast Entertain.
Penyelenggara juga mencantumkan sejumlah ketentuan bagi penonton, termasuk larangan membawa senjata tajam, bahan peledak, benda berbahaya, serta larangan membuat kerusuhan di area acara.
Dengan jadwal konser yang semakin dekat, keputusan mengenai penggunaan Stadion Batoro Katong kini berada di tangan pemerintah daerah. DPRD Ponorogo menegaskan, jika konser tetap digelar, penyelenggara dan pemerintah daerah harus memastikan aspek keamanan serta kondisi fasilitas stadion menjadi tanggung jawab yang jelas.
Bagi DPRD, persoalannya bukan semata-mata boleh atau tidaknya konser digelar, melainkan bagaimana memastikan aset publik yang telah menghabiskan anggaran untuk perawatan tersebut tidak mengalami kerusakan dan tetap dapat digunakan untuk kegiatan olahraga.znl
Editor : Redaksi