JAKARTA- Bank Indonesia (BI) mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50�ektif 9 Juni 2026. Keputusan mendadak ini dinilai sebagai respons BI terhadap tekanan nilai tukar rupiah yang dinilai sudah memasuki fase serius.
Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kenaikan BI Rate bukan berarti krisis, melainkan langkah “anti-panik”. Tujuannya menghentikan spiral pelemahan kurs sebelum berkembang menjadi krisis kepercayaan yang biayanya lebih mahal.
Baca juga: Dollar AS Hampir Rp 18.000, Paling Lemah di Asia
“BI membaca pelemahan rupiah sebagai risiko yang dapat menyebar ke ekspektasi inflasi, arus modal, yield SBN, CDS, dan pasar saham. Dalam situasi seperti itu, BI perlu mengirim sinyal kuat bahwa otoritas moneter tidak membiarkan pasar membentuk ekspektasi depresiasi tanpa batas,” ujar Syafruddin dikutip dari TradingView, Rabu (10/6/2026).
Kebijakan tersebut cukup efektif meredam tekanan dalam jangka pendek. Pada penutupan perdagangan Rabu 10/6/2026, rupiah di pasar spot menguat 0,63% ke Rp17.944 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.058.
Baca juga: Bos BI Optimis Rupiah Bakal Menguat lagi di Bulan Juli hingga September
Meski begitu, Syafruddin mengingatkan penguatan ini belum cukup untuk menyatakan tekanan rupiah berakhir. Secara year-to-date, rupiah masih melemah sekitar 8,34% dibandingkan posisi Desember 2025.
Menurutnya, kenaikan suku bunga hanya berfungsi sebagai “penahan awal”. Stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada arus modal asing, pergerakan indeks dolar AS/DXY, perkembangan CDS Indonesia, yield Surat Berharga Negara, serta konsistensi komunikasi kebijakan otoritas.
Baca juga: Rupiah Makin Loyo Lawan Dollar AS, DPR Desak Gubernur BI Mundur
“Investor juga memperhatikan risiko fiskal, kualitas belanja pemerintah, defisit anggaran, tingkat utang, serta kredibilitas kebijakan ekonomi secara keseluruhan. Suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset rupiah, tetapi sovereign risk premium tetap menentukan apakah investor percaya pada prospek makro Indonesia,” jelasnya.
Syafruddin menyoroti CDS Indonesia tenor 10 tahun yang masih di kisaran 154,810 per 9 Juni 2026. Level itu menunjukkan pasar masih meminta kompensasi risiko relatif tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.tra
Editor : Redaksi