JOMBANG- Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian pemilihan Rais Aam.
Melalui mekanisme tersebut, sembilan ulama yang tergabung dalam AHWA bermusyawarah dan menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU.
Baca juga: Kemenag Siap Dukung Beasiswa dan Riset
Setelah keputusan itu, perhatian kemudian tertuju pada proses pemilihan Ketua Umum PBNU dan penyusunan kepengurusan Tanfidziyah. Dinamika tersebut tidak lepas dari hubungan antartokoh, jaringan pesantren, serta komunikasi yang selama ini berkembang di lingkungan NU.
Pandangan mengenai dinamika tersebut disampaikan Chalid Tualeka, SIP, Ketua LPBI NU Riau, Senin (31/8).
Chalid menyatakan mendukung mekanisme pemilihan tidak langsung melalui AHWA. Menurutnya, mekanisme tersebut sesuai dengan karakter NU sebagai organisasi ulama.
Baca juga: Mekanisme Pilih Ketua Umum PBNU Buntu, Komisi Organisasi Muktamar 35 Ajukan Dua Opsi
“Pada prinsipnya saya setuju dengan sistem pemilihan tidak langsung. Karena kita harus tahu, Nahdlatul Ulama ini bukan ormas seperti ormas-ormas lainnya. Ini organisasi ulama, di mana keputusan tertinggi terakhir itu ada di ulama,” ujarnya.
Menurut Chalid, para ulama yang masuk dalam AHWA memiliki kapasitas keilmuan, ketawadhuan, serta pengalaman pengabdian di lingkungan NU.
“Ulama itu diisi oleh beberapa orang yang secara personal tingkat keilmuan dan tawadhu-nya tinggi,” katanya.
Baca juga: Saat Ratusan Perempuan Bangsa “Serbu” Bazar Muktamar, UMKM Ketiban Rezeki
Ia juga menilai jumlah sembilan anggota AHWA memiliki makna tersendiri dalam tradisi NU.
“Kenapa harus sembilan orang? Karena sembilan itu juga menjadi simbol tersendiri bagi NU, khususnya dalam tradisi kultur kaum Nahdliyin,” ujarnya.din
Editor : Redaksi