LAMONGAN — Kondisi lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Andansari, Lamongan, yang terlihat sepi serta banyaknya lapak yang tidak lagi beroperasi menjadi perhatian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan.
Kepala Disperindag Lamongan, H. Anang Taufik, menyampaikan bahwa pihaknya akan tetap memberikan perhatian serta pembinaan kepada para PKL di kawasan tersebut. Menurutnya, tingkat keramaian maupun sepi suatu sentra PKL dapat berubah-ubah sesuai kondisi di lapangan.
“Setidaknya nanti akan kita lakukan pembinaan dan kita kumpulkan. Ke depan bagaimana Andansari dan sentra-sentra PKL lainnya bisa kembali ramai,” ujar Anang saat dikonfirmasi awak media (14/8/26).
Ia menjelaskan, jumlah PKL di Lamongan cukup banyak dan tersebar di berbagai lokasi, tidak hanya di Sentra PKL Andansari, tetapi juga di sejumlah titik lainnya.
Terkait adanya beberapa paguyuban PKL di kawasan Andansari, Disperindag juga akan melakukan koordinasi dengan para koordinator maupun tokoh setempat.
“Setidaknya kita akan berdiskusi dengan koordinator atau tokoh-tokoh yang ada di sana. Kemudian menindaklanjuti lapak-lapak yang kosong, apakah nantinya dapat ditempati oleh pelaku PKL yang masih berjualan di sekitar jalan dan bersedia masuk ke area tersebut,” jelasnya.
Anang berharap aktivitas perdagangan di Andansari dapat kembali meningkat, sehingga berdampak positif terhadap pendapatan para pedagang.
“Jika PKL kembali ramai, tentu akan berpengaruh pada pendapatan mereka. Kasihan para pelaku PKL. Harapannya mereka dapat berusaha dengan aman, lancar, dan tenang,” katanya.
Kondisi sepinya pembeli tersebut turut dirasakan para pedagang. Salah satu pedagang makanan mengaku minimnya pembeli membuat modal usaha terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Pedagang yang enggan disebutkan namanya itu bahkan mengaku hampir satu bulan tidak dapat berjualan karena modal usaha telah habis untuk kebutuhan hidup.
Ia juga membandingkan kondisi PKL di Andansari dengan pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Basuki Rahmat. Menurutnya, perhatian dan pembinaan seharusnya dapat dilakukan secara lebih merata.
“Apakah kami tidak merasa iri dengan PKL di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang semakin tidak tertata? Saat ini juga ada PKL yang sebelumnya berada di deretan Pasar Tingkat, kemudian dibina dan dipindahkan ke area sekitar lahan pasar,” ujarnya.
Menurutnya, para pedagang yang telah bertahun-tahun berjualan di kawasan alun-alun kini merasa kurang mendapatkan perhatian setelah dipindahkan ke Andansari.
Reporter: M.Yusuf Al Ghoni
Editor : Redaksi