SURABAYA– Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Thomas Julianus Kristianto (19) di Jalan Manukan Yoso, Kelurahan Manukan Kulon, Surabaya. Pemuda yang baru lulus SMA tersebut meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan yang melibatkan sejumlah orang.
Thomas mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif dan operasi di RSUD Dr Soetomo Surabaya, Kamis (5/6/2026) dini hari.
Baca juga: Peristiwa Pembunuhan di Desa Pepas, Satu Meninggal, Satu Luka Luka
Kakek korban, Margono (88), mengaku kehilangan sosok cucu yang selama ini dirawatnya sejak kedua orang tua Thomas meninggal dunia saat masih duduk di bangku SMP.
Margono menuturkan, sebelum kejadian Thomas sempat berpamitan untuk keluar rumah bersama seorang temannya. Namun hingga larut malam, korban tak kunjung pulang. Keluarga kemudian menerima informasi bahwa Thomas berada di sebuah klinik milik dr Danu.
Saat tiba di lokasi, kondisi Thomas sudah tidak sadarkan diri dengan luka serius di bagian kepala.
"Sudah tidak sadar, darah keluar dari kepalanya," ujar Margono saat ditemui di rumah duka.
Karena keterbatasan fasilitas medis di klinik tersebut, keluarga berupaya mencari ambulans untuk merujuk korban ke RSUD Dr Soetomo. Meski sempat mendapatkan penanganan medis dan menjalani operasi, nyawa Thomas tidak dapat diselamatkan.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, dugaan pengeroyokan terjadi di kawasan belakang SMA Negeri 11 Surabaya, sekolah tempat korban menempuh pendidikan. Namun keluarga menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan kasus kepada aparat kepolisian.
Hingga kini, jenazah korban masih menjalani proses autopsi guna memastikan penyebab kematian. Sementara itu, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi kejadian serta mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat.
Kepergian Thomas menjadi pukulan berat bagi Margono. Di mata sang kakek, korban dikenal sebagai pribadi yang baik, rajin beribadah, dan memiliki prestasi akademik yang membanggakan.
"Anaknya baik, sekolahnya juga bagus, rajin ke gereja," tuturnya.
Thomas diketahui baru menyelesaikan pendidikan SMA dan tengah menunggu pengambilan ijazah kelulusannya.
Di usia senjanya, Margono berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus yang merenggut nyawa cucunya tersebut. "Kami cuma ingin keadilan," katanya.yudhi
Editor : Redaksi