JAKARTA — Rencana pemanfaatan 12,7 juta hektare lahan hutan terdegradasi yang disampaikan Hashim Djojohadikusumo memunculkan pertanyaan serius mengenai masa depan kawasan hutan Indonesia. Lahan yang mengalami kerusakan, termasuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), disebut berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung produksi bahan bakar nabati atau biofuel.
Rencana tersebut berkaitan dengan upaya mendukung produksi biodiesel B50 hingga B100. Kelapa sawit merupakan salah satu bahan baku utama biodiesel di Indonesia. Namun, belum dapat dipastikan bahwa seluruh lahan seluas 12,7 juta hektare yang disebut Hashim akan ditanami sawit.
Istilah hutan terdegradasi merujuk pada hutan yang mengalami penurunan fungsi ekologis akibat berbagai faktor, seperti kebakaran, penebangan, dan aktivitas manusia. Artinya, hutan yang rusak tidak selalu berarti lahan kosong yang bisa langsung dialihfungsikan menjadi perkebunan.
Rencana pemanfaatan jutaan hektare lahan ini menjadi sorotan di tengah persoalan karhutla yang masih terjadi di berbagai daerah. Hutan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran pada dasarnya dapat dipulihkan melalui rehabilitasi, bergantung pada kondisi ekologis dan status kawasannya.
Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka lokasi dan status 12,7 juta hektare lahan yang dimaksud, termasuk apakah kawasan tersebut akan dipulihkan atau dikembangkan menjadi perkebunan tanaman penghasil biofuel. Jangan sampai upaya mengejar target energi justru mengabaikan pemulihan hutan dan menimbulkan persoalan lingkungan baru.
Editor : Redaksi