SURABAYA — Sebuah foto sederhana justru menyimpan pesan tentang kepemimpinan, kebersamaan, hingga keamanan Kota Surabaya.
Momen itu terjadi saat Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri meninjau pameran fotografi Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) di lantai 1 Gedung DPRD Surabaya, Kamis (13/8/2026).
Di antara deretan karya jurnalistik yang dipamerkan, perhatian Syaifuddin tertuju pada sebuah foto yang mengabadikan dirinya bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Dalam foto tersebut, keduanya terlihat tertawa lepas menjelang pintu lift tertutup.
Syaifuddin memperhatikan foto itu beberapa saat. Senyum pun terlihat di wajahnya. Menurut dia, gambar tersebut memperlihatkan sisi lain seorang pejabat publik yang tidak selalu harus tampil dalam suasana formal dan serius.
“Kepala daerah harus terlihat berwibawa, tegas, luwes dan humble di depan publik. Tapi juga enggak perlu kelihatan serius terus, nanti dikira stres mikirin rakyat melulu,” ujar Syaifuddin sembari tersenyum.
Bagi Syaifuddin, suasana cair seperti yang tergambar dalam foto tersebut bukan sekadar persoalan ekspresi. Ia menilai komunikasi yang hangat antarpemangku kepentingan justru penting dalam membangun pemerintahan dan kehidupan kota yang lebih harmonis.
Pesan itu kemudian berlanjut ketika Syaifuddin memberikan apresiasi terhadap rangkaian kegiatan Judes dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menilai kegiatan yang mempertemukan insan pers, anggota DPRD, Sekretariat DPRD dan masyarakat bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang untuk mencairkan sekat formal.
“Saya selaku Ketua DPRD Surabaya amat sangat bangga terhadap teman-teman Judes,” katanya.
Menurutnya, olahraga, fotografi dan berbagai aktivitas bersama dapat menjadi sarana membangun komunikasi yang lebih terbuka antara pers dan lembaga legislatif. Karena itu, ia mendorong anggota DPRD maupun jajaran Sekretariat DPRD Surabaya agar semakin aktif terlibat dalam kegiatan yang digagas Judes.
“Teman-teman Judes, DPRD, serta Sekwan harusnya juga membaur menjadi satu,” tegasnya.
Namun, pembicaraan Syaifuddin tidak berhenti pada soal kebersamaan. Ia kemudian menyinggung persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana menjaga Surabaya tetap aman dan nyaman.
Menurutnya, keamanan kota bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat keamanan. Ada peran masyarakat, pers, lembaga legislatif dan seluruh elemen kota yang harus berjalan bersama.
Ia bahkan menyebut terdapat “pagar keamanan” yang jauh lebih penting dibandingkan pagar secara fisik. Pagar tersebut, kata dia, adalah kesadaran, komitmen serta kepatuhan terhadap konstitusi.
“Pagar keamanan yang utama bukanlah fisik, melainkan pagar mental dan komitmen sesuai konstitusi,” tegas Syaifuddin.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keamanan Surabaya tidak hanya dibangun ketika persoalan muncul. Lebih dari itu, keamanan membutuhkan kesadaran bersama agar setiap warga memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap kotanya.
“Kalau ngomong arek Suroboyo, pasti tidak akan rela Surabaya itu menjadi tidak nyaman,” ujarnya.
Semangat kebersamaan itu pula yang diharapkan terus tumbuh melalui rangkaian kegiatan Judes. Setelah pertandingan tenis meja, agenda berikutnya dijadwalkan berupa mini soccer pada 21 Agustus 2026 serta diskusi sebagai bagian dari rangkaian peringatan kemerdekaan.
Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Kemerdekaan di lingkungan Gedung Dewan Surabaya, Bambang Hadi Marwanto, menyambut baik keterbukaan Syaifuddin terhadap kegiatan tersebut.
Ia berharap keterlibatan anggota DPRD dan Sekretariat DPRD dalam agenda yang diinisiasi Judes dapat semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang.
Pada akhirnya, foto Syaifuddin dan Eri yang tertawa bukan sekadar sebuah dokumentasi. Di balik satu jepretan kamera, terselip gambaran bahwa komunikasi, kebersamaan dan rasa saling percaya antarelemen kota dapat menjadi bagian penting dalam menjaga Surabaya tetap aman, nyaman dan guyub.
Bagi jurnalis maupun politisi, ruang kebersamaan tidak selalu harus lahir dari meja rapat. Terkadang, sebuah foto, pertandingan olahraga dan obrolan ringan justru mampu membuka ruang komunikasi yang lebih manusiawi dan dari sanalah semangat membangun kota dapat tumbuh bersama. tyan
Editor : Redaksi