Garap Proyek Kereta Whoosh Warisan Jokowi, WIKA Rugi Rp483,8 Miliar dalam 3 Bulan

Jokowi saat meresmikan Whoosh di tahun 2023.
Jokowi saat meresmikan Whoosh di tahun 2023.

JAKARTA- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) masih menanggung beban keuangan besar akibat keterlibatannya dalam proyek Kereta Whoosh atau sebelumnya bernama Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Tekanan tersebut tercermin dari laporan keuangan kuartal I 2026 yang mencatat rugi sebesar Rp483,80 miliar.

Kepala Badan Pengelola Investasi (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan beban yang ditanggung WIKA berasal dari kepemilikan saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) melalui konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), serta tagihan yang hingga kini belum diselesaikan oleh KCIC.

"Mereka (WIKA) punya saham di KCIC. Dan, ada tagihan (WIKA) yang juga belum diselesaikan (KCIC), ini menjadi beban buat mereka,” ujar Dony.

Saat ini, WIKA memiliki 33,36 persen saham di PSBI, menjadikannya pemegang saham terbesar kedua setelah PT KAI (Persero) yang menguasai 58,53 persen. Sementara PT Jasa Marga memiliki 7,08 persen saham dan PTPN VIII sebesar 1,03 persen. Adapun komposisi kepemilikan di KCIC terdiri dari PSBI sebesar 60 persen dan Beijing Yawan sebesar 40 persen, setelah China Railway melepas seluruh kepemilikan sahamnya pada 2017.

Dony memastikan persoalan yang membebani WIKA tidak akan dibiarkan dan Danantara tengah menyiapkan skema penyelesaiannya.

Proyek Kereta Whoosh sendiri dimulai pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kerja sama Indonesia dan Tiongkok diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian BUMN dan National Development and Reform Commission (NDRC) Republik Rakyat Tiongkok pada 26 Maret 2015. Selanjutnya dibentuk konsorsium PSBI yang kemudian bersama mitra dari Tiongkok mendirikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pengelola proyek.

Meski telah beroperasi sejak 2023, kinerja keuangan proyek masih berada di bawah target awal. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Pemeriksaan Kepatuhan PT WIKA Tahun Buku 2022 hingga Semester I 2024 yang terbit pada Desember 2025, PSBI diproyeksikan masih mengalami kerugian hingga 2029.

Tekanan tersebut juga terlihat dari laporan keuangan konsolidasian interim PT KAI semester I 2026 yang mencatat PSBI membukukan rugi bersih Rp5,13 triliun. Pada periode yang sama, total aset PSBI turun dari Rp25,2 triliun menjadi Rp21,5 triliun, sementara total liabilitas meningkat dari Rp20,1 triliun menjadi Rp21,5 triliun.

Kerugian PSBI tersebut turut berdampak pada seluruh pemegang sahamnya, yakni PT KAI, WIKA, PT Jasa Marga, dan PTPN VIII.ik

Editor : Redaksi