JAKARTA- Kata-kata makian yang disebut Presiden Prabowo dinilai "tidak pantas" dan "berbahaya" oleh pakar politik.
Guru Besar Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, menilai sebutan "goblok" yang ditujukan kepada pakar bersifat merendahkan, bahkan melecehkan.
Baca juga: Syarat Prabowo Terima Undangan: Kalau Perlu Tidak Ada Wartawan, Saya Harus Hati-hati Bicara
Secara tidak langsung, kata Sulistyowati, pemerintah turut memproduksi masyarakat anti-sains yang tidak berpikir rasional.
Menurutnya, kritik dari pakar muncul akibat absennya lembaga seperti DPR, yang semestinya melakukan fungsi pengawasan.
"Kami yang melancarkan fungsi pengawasan dikatakan goblok. Buruk sekali negara kita," kata Sulistyowati.
Ini bukan pertama kali Presiden melontarkan sindiran serta tuduhan kepada pihak-pihak yang mengkritik program atau kebijakannya.
Baca juga: Stop Impor Solar, Prabowo Ungkap Indonesia Siap Produksi Batu Bara Jadi Bensin Asli Buatan RI
Selama hampir dua tahun memimpin negara, Prabowo setidaknya sudah empat kali mengucapkan makian, antara lain "ndasmu", "antek asing", "londo ireng", dan yang terakhir, "goblok".
Apa yang dilakukan Prabowo ini dinilai menunjukkan gejala otoritarian, yang melarang perbedaan pandangan, menurut pakar politik di lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Nicky Fahrizal.
"Ini yang menurut saya berbahaya. Iklim demokrasi, yang semua memerlukan transparansi dan akuntabilitas, kritik diperlukan untuk memperbaiki kebijakan yang tidak tepat sasaran," kata Nicky.
Baca juga: Soal Keracunan MBG, Respons Prabowo: Kalau Sakit Perut Itu Biasa Sebetulnya
Di sisi lain, pakar politik, Bawono Kumoro, menilai meskipun Prabowo merespons pengkritiknya dengan gaya bicara “blak-blakan”, Presiden tidak melakukan hal-hal represif terhadap mereka.
Namun, Bawono juga tak membenarkan umpatan maupun sindiran yang dilontarkan Prabowo. Sebab, bagaimanapun hal tersebut bakal memunculkan sentimen negatif di publik.
Editor : Redaksi