JOMBANG- Pasca penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kampus dalam naungan NU dan Universitas Indonesia (UI) pada Jumat (28-8-2026), kedua belah pihak langsung merumuskan langkah strategis meskipun pembahasan dalam suasana Muktamar ke 35 NU yang berlangsung di Ponpes Bahrul Ulum (BU) Tambakberas Jombang.
Dalam pembahasan tersebut juga dihadiri oleh Kementerian Agama (Kemenag) membuka peluang dukungan pendanaan untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut, mulai dari beasiswa dosen dan mahasiswa hingga program penelitian.
Baca juga: Mekanisme Pilih Ketua Umum PBNU Buntu, Komisi Organisasi Muktamar 35 Ajukan Dua Opsi
Kolaborasi NU dan UI ini dinilai menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperkuat kapasitas akademik kampus-kampus dalam naungan NU.
Salah satu program yang mulai disiapkan adalah double degree jenjang pascasarjana bagi dosen dari perguruan tinggi NU. Program tersebut diharapkan menjadi jalan bagi dosen untuk meningkatkan kualifikasi akademik sekaligus membawa standar pendidikan UI ke lingkungan kampus NU.
Dekan FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Tito Latif Indra, mengatakan MoU yang telah dilakukan harus segera diwujudkan dalam program nyata.
“Setelah kita melakukan MoU, kami segera mengimplementasikannya. Kita ingin segera bisa bekerja sama, yang dibuktikan kemarin pada saat acara halaqah di Tambakberas ini,” ujar Prof Tito dalam rangkaian Halaqah Santri Luar Negeri di Tambakberas, Jombang. Sabtu (29/8).
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya menyangkut pendidikan, tetapi juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Program-program kerja sama, khususnya pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, akan kita lakukan. Jadi kerja sama tripartit ini sangat baik sekali untuk ke depan dan bisa mempunyai mutual benefit untuk semua pihak,” katanya.
Double Degree untuk Dosen Kampus NU
Salah satu rekomendasi konkret dari kerja sama NU-UI adalah pendidikan double degree pascasarjana. Program ini dapat diikuti dosen-dosen dari perguruan tinggi dalam naungan NU yang memenuhi persyaratan.
“Rekomendasinya, pertama adalah pendidikan double degree di bidang pascasarjana yang bisa dilakukan di Indonesia. Ini bisa diisi oleh para dosen-dosen dari PTNU yang bisa bekerja sama dengan UI, tentunya dengan memenuhi berbagai persyaratan yang sudah disyaratkan,” jelas Prof Tito.
Baca juga: Saat Ratusan Perempuan Bangsa “Serbu” Bazar Muktamar, UMKM Ketiban Rezeki
Menurut dia, program tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kualitas dosen sekaligus memperkuat perguruan tinggi NU.
Peluang tersebut semakin terbuka karena terdapat skema pembiayaan pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
Sementara itu. Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Sekretariat Jenderal Kemenag, Rukman Basori, menyambut baik inisiatif kampus-kampus di bawah NU yang bekerja sama dengan UI.
Menurut Rukman, perguruan tinggi yang berada dalam pembinaan Kemenag dapat membangun pola kerja sama tripartit dengan melibatkan kampus NU, UI, dan Kemenag.
Baca juga: Berkah Muktamar, Lima Kampus NU MoU Dengan UI, Membuka Jalan Santri Menembus Kampus Terbaik
“Pada prinsipnya dari Kementerian Agama kami menyambut baik inisiasi sejumlah perguruan tinggi di bawah Nahdlatul Ulama yang bekerja sama dengan UI,” ujar Rukman.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut dapat menyentuh berbagai sektor, termasuk pembiayaan pendidikan, riset, dan beasiswa.
Ia mencontohkan Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas yang memiliki Fakultas Agama Islam (FAI). Menurutnya, bidang tersebut dapat dikolaborasikan dengan Kemenag dalam berbagai program.
“Boleh yang disebut oleh Pak Toto ini sebagai tripartit. Misalkan antara Unwaha yang FAI-nya, karena Unwaha kan di bawah universitasnya, tapi yang FAI-nya maka bisa bekerja sama dengan Kementerian Agama dalam hal pembiayaan, apakah soal riset maupun juga beasiswa,” jelasnya.nul
Editor : Redaksi