Sudah 1 Tahun Menikah tapi Belum Hamil? Dokter Ungkap Kapan Pasangan Harus Periksa Kesuburan

mediarealita.co
Prof. Budi Santoso, Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia (kanan). Foto: Rusdy

JEMBER  - Sudah menikah selama satu tahun dan rutin berhubungan tanpa kontrasepsi, tetapi kehamilan belum juga datang? Kondisi tersebut sebaiknya tidak hanya ditunggu, karena bisa menjadi tanda pasangan perlu mulai memeriksakan kesuburan.

Konsultan Fertilitas Morula IVF Indonesia, Prof. Budi Santoso, mengatakan persoalan sulit mendapatkan keturunan dialami sekitar 10 hingga 15 persen pasangan pada usia reproduksi. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti pasangan harus menjalani program bayi tabung.

Penanganan infertilitas dapat dilakukan secara bertahap sesuai penyebabnya, mulai dari pemberian obat untuk merangsang ovulasi, pengaturan waktu hubungan seksual, hingga inseminasi. Bayi tabung menjadi salah satu pilihan ketika upaya sebelumnya belum memberikan hasil.

“Tidak semuanya mesti dengan bayi tabung. Bisa dengan obat induksi ovulasi, jadwal senggama, bisa bahkan mungkin dengan inseminasi. Kalau semua usaha itu masih belum berhasil, maka bayi tabung merupakan final effort, usaha akhir untuk mendapatkan momongan,” ujar Budi, Sabtu (08/08/2026).

Menurut Budi, waktu menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan masalah kesuburan, terutama pada perempuan. Seiring bertambahnya usia, cadangan sel telur atau ovarian reserve dapat menurun dan kualitas sel telur juga ikut berubah.

Penurunan tersebut dapat berpengaruh terhadap peluang kehamilan. Selain itu, risiko keguguran dan kelainan kromosom pada kehamilan juga cenderung meningkat seiring bertambahnya usia perempuan.

“Usia 35 tahun itu adalah golden period-nya, di bawahnya. Kalau di atasnya, biasanya ovarian reserve-nya turun, kualitasnya turun, angka abortus meningkat dan angka kelainan kongenital meningkat,” kata Budi.

Karena itu, pemeriksaan kesuburan tidak seharusnya baru dilakukan ketika pasangan sudah memasuki usia yang lebih lanjut. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui kondisi reproduksi sekaligus menentukan pilihan penanganan yang sesuai.

Perkembangan teknologi reproduksi berbantu juga membuat persoalan kesuburan pada pasangan tidak selalu berhenti pada kualitas sel telur atau sperma yang kurang baik.

Scientific Director Morula IVF Indonesia, Prof. Arief Boediono, mengatakan terdapat teknologi yang dapat membantu proses pembuahan pada kondisi sperma dengan jumlah atau kualitas tertentu.

Salah satunya adalah metode intracytoplasmic sperm injection atau ICSI. Melalui metode ini, satu sperma yang dipilih dapat disuntikkan langsung ke dalam sel telur untuk membantu proses pembuahan.

“Dengan teknologi yang sekarang maju, suami yang memang punya keterbatasan tidak perlu khawatir. Dengan teknologi ini sangat memungkinkan,” ujar Arief.

Teknologi reproduksi berbantu juga memungkinkan embrio dikembangkan terlebih dahulu di laboratorium. Pada kondisi tertentu, embrio dapat menjalani biopsi untuk dianalisis kromosomnya sebelum dilakukan proses transfer ke rahim.

Meski demikian, teknologi bukan berarti setiap pasangan yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan harus langsung menjalani bayi tabung. Pemeriksaan tetap menjadi langkah awal untuk mengetahui penyebab masalah dan menentukan terapi yang paling tepat.

Arief menyarankan pasangan yang telah menikah selama sekitar satu tahun, rutin melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, tetapi belum mengalami kehamilan untuk mulai berkonsultasi.

“Kalau satu tahun menikah, melakukan hubungan secara normal kemudian tidak hamil, ini harus mulai konsultasi. Kita lihat kenapa ini, solusinya apa,” ujarnya.rdy

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru