Grebeg Suro Ponorogo 2026: SMA Muhipo Feat Reog Difabel Hipnotis Ribuan Penonton 

Grup Reog Taruno Suryo SMA Muhipo saat berkolaborasi bersama grob Reog Difabel binaan Polres Ponorogo dalam acara penutupan Grebeg Suro tahun 2026. 
Grup Reog Taruno Suryo SMA Muhipo saat berkolaborasi bersama grob Reog Difabel binaan Polres Ponorogo dalam acara penutupan Grebeg Suro tahun 2026. 

PONOROGO (Mediarealita)-Panggung Utama Alun-alun Ponorogo mendadak senyap, lalu bergemuruh oleh tepuk tangan riuh ribuan penonton pada malam penutupan Grebeg Suro 2026, Senin (15/6/2026).

Di tengah kemegahan puncak Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI, sebuah pesan kemanusiaan yang mendalam berhasil menyihir publik lewat kolaborasi inklusif yang melampaui batas fisik.

Grup Reog Taruno Suryo dari SMA Muhammadiyah 1 (Muhipo) Ponorogo memberikan kejutan besar. Tidak hanya mempertahankan ciri khas sebagai "Reog Santri" yang magis, mereka secara khusus menggandeng para seniman disabilitas dibawah naungan Sat lantas Polres Ponorogo untuk tampil bersama di ajang pelestarian budaya paling bergengsi tersebut.

Dalam pertunjukan semalam, ritem gamelan dan kendang yang perkasa khas Reog Ponorogo terdengar berpadu manis dengan sisipan aransemen lagu.

Namun, yang membuat banyak penonton merinding adalah fakta di balik meja pengrawit (pemusik gamelan). Grob Reog Taruno Suryo SMA Muhipo berkolaborasi langsung dengan para tunanetra di bawah binaan Brigadir Luhur Ainul Fikri atau yang akrab disapa Mas Luhur, seorang inisiator yang dikenal aktif mengawal komunitas reog disabilitas di Bumi Reog.

Meski memiliki keterbatasan penglihatan, ketukan ritem dan keselarasan musik yang dihasilkan para pengrawit difabel ini tampil begitu rapi dan harmonis. Mereka menjadi ruh yang mengiringi jangkah dinamis para penari jathilan serta kegagahan para warok di atas panggung utama.

Fokus pertunjukan ini sengaja ditekankan pada isu kesetaraan dan pemenuhan hak-hak kaum minoritas, khususnya penyandang disabilitas, dalam ruang publik dan kebudayaan.

Kepala Sekolah SMA Muhipo, Sugeng Riadi, menegaskan bahwa keterlibatan teman-teman difabel dalam event nasional ini bukan sekadar pelengkap, melainkan komitmen nyata terhadap nilai inklusivitas.

“Di balik suksesnya tampilan semalam, ada mereka yang memiliki keterbatasan fisik, namun memiliki hak yang sama untuk berkesenian tanpa batas. Kami ingin memberikan ruang ekspresi yang setara," ujarnya.

Taruno Suryo Muhipo membuktikan bahwa Reog Ponorogo bukan hanya milik mereka yang bugar secara fisik, melainkan media pemersatu yang merangkul setiap elemen masyarakat tanpa sekat.

Rangkaian perayaan Grebeg Suro 2026 sendiri telah resmi ditutup semalam setelah melewati prosesi sakral Kirab Pusaka dan Jamasan pada siang harinya.

Acara penutupan semalam sekaligus menjadi momen mendebarkan dengan pengumuman pemenang Festival Reog Remaja XXII dan FNRP XXXI. Grob Reog Taruno Suryo SMA Muhipo sendiri berhasil menjadi top ten penyaji terbaik dalam FNRP tahun ini. 

Lewat sisa gemuruh penutupan semalam, penampilan kolaboratif Reog SMA Muhipo bersama seniman disabilitas meninggalkan catatan penting: bahwa pelestarian budaya yang hakiki adalah pelestarian yang memanusiakan manusia dan memberikan tempat bagi mereka yang sering kali tak terdengar. man

Editor : Redaksi