JOMBANG — Ada berkah tersendiri di balik penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Tambakbetas Jombang. Momentum besar tersebut tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi di bidang pendidikan.
Salah satunya ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Indonesia (UI) dengan lima perguruan tinggi yang berbasis NU dan pesantren. Di balik kerja sama ini tersimpan harapan besar: membuka jalan lebih luas bagi talenta-talenta muda dari kampus NU untuk berkembang dan menembus jejaring akademik nasional.
Baca juga: Saat Ratusan Perempuan Bangsa “Serbu” Bazar Muktamar, UMKM Ketiban Rezeki
Lima perguruan tinggi tersebut masing-masing Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Universitas Nurul Jadid Probolinggo, Sekolah Tinggi Khuliyatul Qur’an Al-Hikam Depok, Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto, dan STAINU Assalafie Babakan Cirebon.
Penandatanganan MoU dilakukan bersama Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, jajaran UI, serta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kerja sama ini menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi NU untuk memperluas jejaring akademik. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut diharapkan memberi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman, pengetahuan, serta akses yang lebih luas terhadap perkembangan dunia pendidikan tinggi.
Rektor UI Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, menilai persaingan untuk masuk perguruan tinggi saat ini semakin ketat.
“Sekarang kurang lebih ada sekitar 30 ribu lulusan sekolah menengah, namun hanya sekitar 5 ribu yang masuk perguruan tinggi. Ini menunjukkan betapa sengitnya persaingan untuk masuk universitas,” kata Heri, Jumat (28/8).
Baca juga: Aktivis NU Luar Negeri Satukan Jejaring Global, Jangan Biarkan Ekonomi Indonesia Dinikmati Asing
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa akses dan kualitas pendidikan tinggi menjadi tantangan yang harus dijawab bersama. Selama ini, banyak perguruan tinggi NU tumbuh dari tradisi pesantren. Di dalamnya terdapat potensi besar generasi muda yang tidak hanya mendapatkan pendidikan akademik, tetapi juga ditempa dengan nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan.
"Potensi itulah yang diharapkan semakin menemukan ruang melalui kolaborasi dengan UI." Ujarnya.
Mahasiswa dari kampus-kampus NU diharapkan tidak lagi melihat perguruan tinggi besar seperti UI sebagai dunia yang jauh. Melalui jejaring kerja sama, mereka memiliki kesempatan untuk bertemu, belajar, berdiskusi, melakukan penelitian, hingga membangun jaringan bersama akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Baca juga: PAM Muktamar ke-35 NU Tegaskan Netral, Tak Ada Titipan dalam Pengamanan
Bagi kampus NU, kerja sama ini bukan semata soal gengsi menggandeng perguruan tinggi ternama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana MoU tersebut diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh mahasiswa dan dosen.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kerja sama bukan hanya terletak pada dokumen yang ditandatangani, tetapi pada lahirnya kesempatan-kesempatan baru bagi generasi muda.
Dari kampus-kampus yang tumbuh dari rahim pesantren, talenta-talenta muda NU diharapkan semakin berani melangkah lebih jauh. Mereka tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pendidikan tinggi nasional, tetapi ikut mengambil bagian di dalamnya.
Kerja sama dengan UI menjadi salah satu pintu untuk mewujudkan harapan tersebut. Mempertemukan tradisi keilmuan pesantren dengan kekuatan akademik, riset, dan jejaring perguruan tinggi nasional. Pada akhirnya, yang ingin dibuka bukan hanya pintu kampus, tetapi pintu masa depan bagi generasi muda NU. (din)
Editor : Redaksi